Apr 18, 2013

Healthy Fun Adventure

Posting ini sebenarnya dalam rangka campaign the urban mama: Healthy Mama, Modern Kartini
Keren yaaa..
Saya? Tentu saja gak mau ketinggalan. Salah satu kegiatan favorite yang menyehatkan, apalagi kalo bukan hiking. Meskipun sekarang sudah jauh banyak berkurang hiking di tempat-tempat menarik, tapi tidak mengurangi semangat untuk hiking alias jalan-jalan dimana saja kaan..
Bahkan sekarang saya sudah mulai menularkan kegiatan gemar berjalan kaki ini kepada Kira dan Kara. Kita memulainya dengan kegiatan yang paling sederhana. Selalu berangkat dan pulang posyandu dengan berjalan kaki, meskipun berjarak 2 gang dari rumah. Bahkan belanja ke indomaret, kalau pagi hari saya ajak Ki-Ka berjalan kaki. Lumayanlah, PP bisa 1 KM lebih lhooo..
Berikut beberapa foto saya waktu hiking.

Oh iya, kalau hiking, ada 2 logistik yang tidak lupa selalu ada di tas adalah air mineral dan buah. Buah? iya, segerrr... kalau bawa pisang, bisa bikin kenyang pula... Sehat.. Meskipun tidak sedang hiking, buah adalah makanan favorite saya. Minum jus juga jadi kegemaran saya. Eh nular juga lho ke Kira-Kara. Bahkan favorite pisang kita sama, pisang raja.. horeee...

sekian. :D

Mar 15, 2013

Our Chit-Chat (1)

Suatu sore, 2 hari yang lalu ketika bunda pulang dari kantor, Kara dan Kira menyambut di depan pintu. Melihat baju dan celana bunda ada yang basah, Kira dan Kara bereaksi. Ini sedikit obrolan kami:

Kira : Baju bunda basah ya?
Bunda: Iya kak, bunda kehujanan...
Kara: Bunda gak pake jas hujan?
Bunda: enggak, bunda pake payung..
Kara: Harusnya pake jas hujan bunda... (it's true, bunda tidak salah dengar ketika Kara benar-benar bilang "harusnya")
Bunda: Kenapa harus pake jas hujan, dik?
Kara: "biar gak basah bunda... biar gak kena hujan.."
Bunda: "Bunda gak punya jas hujan. Yang punya jas hujan ayah dan om nunny... Bunda punya nya payung.."
Kara: "Nanti kalo adik sudah besar, adik belikan ya bunda.. biar bunda gak kehujanan..."
Kira: "Nanti kakak yang boncengin ya bunda..."
Bunda: "Oh yaaa.. terima kasih ya dik.." lanjut.. "boncengin kemana kak?"
Kira: "boncengin pake motor.. kayak ayah... anterin bunda ke kantor..."
Bunda: *melting*





Mar 14, 2013

Our Newest Fun Adventure

Minggu kemarin saya bersama Kira & Kara naik kereta api pulang ke Surabaya. Perjalanan mudik dengan kereta api bukan hal baru bagi saya dan Kira - Kara.  Sejak tahun kemarin kami rutin mudik naik kereta api. Alasannya sederhana, moda transportasi ini paling nyaman, lebih cepat, dan mudah di dapat tiketnya. Untuk kami yang mudah mabuk perjalanan, naik kereta api amat sangat membantu. Bosan dengan perjalanan, kami bisa berjalan-jalan di lorong kereta.  Jadi apa yang baru kali ini??

Apabila biasanya saya selalu ditemani suami atau mertua, kali ini tidak ada yang bisa menemani. Suami sudah terlanjur handle kerjaan yang tidak bisa ditinggal. Adik-adik saya masih sibuk dengan urusan hajatan di rumah karena memang saya pulang dalam rangka pernikahan adik bungsu saya.  Jadi? Saya nekat naik kereta api hanya bertiga bersama Kira dan Kara.

Reaksi orang sekitar saya? Mostly mereka khawatir. Karena saya membawa 2 anak yang sedang lincah-lincahnya, ceriwis-ceriwisnya dan penuh rasa ingin tahu. Tapi saya tahu, saya yakin, saya bisa.. Setelah mendapat ijin dari suami, maka saya mantap untuk pulang naik kereta api hanya bertiga bersama Kira & Kara. 2 hari sebelum keberangkatan saya sudah bilang sama Kira dan Kara kalo nanti pulang ke Surabaya hanya dengan bunda. Ayah akan naik bis lebih dulu.. dan bla.. bla.. yang lainnya. Tujuannya, saya ingin mempersiapkan mental Kira & Kara agar lebih berhati-hati sepanjang perjalanan nanti. Jujur, saya sendiri sebenarnya juga deg-deg'an dengan reaksi Kira - Kara nanti. Karena biasanya mereka tidak bisa duduk diam di kursinya. Selalu memaksa ayahnya untuk jalan-jalan di lorong kereta. Bukan karena bosen, tapi karena banyak hal baru yang bisa mereka lihat dari pintu Kereta api yang berjendela lebih lebar. Dan mungkin mereka juga menikmati jalan-jalan dengan sensasi goncangan kereta. hehe...  Surpraise-nya, sepanjang perjalanan saya mendapati Kira & Kara bertingkah sangaaatt manis dan kooperatif. Mereka masih ingin tahu tentang semua yang mereka lihat. Seperti ketika mereka ingin lihat rel kereta,  saya bilang, "hati-hati, mundur.. jangan terlalu dekat rel.." Mereka dengan sangat patuh melihat rel kereta dari jarak yang aman.. tentunya masih dengan buntut2 pertanyaan "kenapa bunda?", "Kereta punya roda ya bunda?" dan banyak lagi..


Bahkan di dalam kereta yang biasanya mereka tidak sabar duduk dikursinya, kali ini mereka hampir tidak meminta untuk jalan-jalan di gerbong, kalau saya tidak menawarinya. Bahkan ketika saya tawari pun, mereka menjawab "enggak bunda.. nanti gak ada yang jagain tasnya..." Reaksi saya? Terkejut, surpraise, dan ternganga... Never crossed in my mind!
Kompensasinya, saya bercerita tentang banyak hal.. tentang hutan, apa manfaat hutan,  tentang sawah, tentang bagaimana Pak Tani bekerja. Mereka menyambung dengan cerita imaginasi mereka tentang hutan dan tebing dan awan yang berarak-arak... Sungguh, saya tidak pernah menyangka, Kara mampu membuat cerita imaginasinya tentang hewan yang ada di hutan. Kara bercerita, Kira menimpali, menyambung, hingga menjadi 1 buah cerita tentang seekor anak panda yang melihat awan yang sedang berarak-arak dan bulan dari atas tebing di sebuah hutan. Sebenarnya ada percakapan si anak panda dengan awan dan bulan.. tapi karena lupa seperti apa, jadi saya tidak bisa bercerita ulang deh.. Yang jelas saya tersenyum-senyum sendiri mendengar mereka bercerita dan takjub sepanjang perjalanan itu... Hingga saya lupa mengabadikan cerita itu dalam sebuah dokumentasi.. Yang saya ingat hanya "betapa Tuhan maha Pemurah dan tidak ada lagi alasan bagi saya untuk tidak bersyukur.."



Untuk membuat perjalanan lebih nyaman, ada beberapa hal yang saya persiapkan. Tidak banyak memang, tapi sangat berguna. Antara lain:

1. Menyiapkan mental Kira & Kara dengan memberitahukannya sebelum perjalanan. Paling tidak, mereka berhak tahu apa yang akan dihadapi nanti dan apa yang harus mereka lakukan untuk kenyamanan dan keselamatan bersama.

2. Mempersiapkan bawaan. Pastikan barang bawaan tidak terlalu banyak, karena konsentrasi utama pada anak-anak. Saya hanya membawa 1 koper dan 1 sling bag. Koper berisi baju-baju dan sling bag berisi 1 baju ganti, snack buat Ki-Ka, dompet, HP, tiket, dan perlengkapan domestik pendukung seperti tissue basah, minyak telon, tissue kering, dan lainnya.  Sebenarnya akan lebih mudah bagi saya seandainya ada ransel besar. Tapi karena tidak ada, koper pun jadi. Dengan pertimbangan, apabila memang ribet maka saya bisa menyewa porter yang sekarang mudah dijumpai di stasiun. Apalagi porter sekarang lebih tertib dan aman karena terdaftar dan terlisensi oleh PT. KAI. Beberapa ribu untuk porter tidak masalah asal keselamatan dan kenyamanan 2 bocah saya tetap terpantau.

3.  Tidak lupa membawa bekal untuk si bocah seperti: snack, susu, minuman, makanan atau bahkan mainan agar 2 bocah tidak bosan. Apabila bosan, anak akan rewel. Dan rewel akan membuat mood bunda jadi terganggu, dan perjalanan tidak lagi nyaman deh.. Jadi jaga mood anak dan ibu itu penting!

4. Jangan terlalu ribet dengan barang. Siapkan tiket dan HP di tempat yang mudah dijangkau.  Uang di tempat yang Aman. Ribet mencari 1 barang saja, akan menganggu kenyamanan. Jadi tas teroganisir itu gak kalah penting buat saya.

5.  Oh iya, memastikan si bocah dalam kondisi prima. Sehat, kenyang, tidak terlalu lelah/mengantuk. Karena namanya bocah, kalo gak fit atau terlalu capek pastilah rewel.

6. Tentunya memastikan moda transportasi dan keadaan stasiun aman dan tidak crowded. Kereta api dan stasiun sejauh ini transportasi paling aman dan nyaman untuk perjalanan bersama anak.

Buat saya, perjalanan tersebut benar-benar petualangan yang luar biasa bersama Kira dan Kara... Jadi, gak takut lagi dunk jalan-jalan hanya bersama anak-anak sajaa?! :D

Jan 26, 2013

[Pepatah Jawa] "Abot Entheng Tak Sanggane"

Pernah mendengar tentang pepatah Jawa, ibarat kata "Abot Entheng tak sanggane"? Kurang lebih dalam bahasa Indonesia "berat-ringan biar kupikul sendiri".
Katanya ibu-bapak dulu, sebagai orang tua harus siap dengan segala resikonya. abot-entheng, berat-ringan, harus siap memikulnya. Memang setiap keputusan, setiap tindakan, setiap langkah kita pasti mengandung resiko. Dan memang apapun resikonya kita musti siap mempertanggung jawabkannya. Namun banyak yang masih memiliki persepsi berbeda.. Ada pula yang memiliki persepsi bahwa, berat-ringan tugas sebagai orang tua, resiko sebagai orang tua, sebaiknya anak jangan sampai tahu. Apa anda satu diantara yang memiliki pendapat serupa?
Karena hari ini saya benar-benar mendapat pelajaran berharga dari filosofi tersebut. Alkisah ada orang tua yang memiliki filosofi, apapun beban orang tua, apapun yang dialami orang tua, sebaiknya anaknya jangan sampai tahu. Karena memang itu sudah menjadi resikonya, sudah menjadi tugasnya. "abot entheng tak sanggane, mbak..." begitu konon katanya.. Waktu demi waktu berlalu.. si anak tumbuh dewasa dan sudah menikah serta memiliki anak. Hingga suatu saat, si orang tua mengalami kesusahan yang tidak bisa ditanggungnya sendiri. Bagaimana reaksi si anak? Adem ayem.. Karena ia tidak diajarkan untuk peka terhadap kesulitan orang tuanya. Bagaimana orang tua melihat anaknya yang tetep adem ayem saja? Nelangsa, tapi tidak lagi mampu berbuat apa-apa.. banyak alasan.. tidak tega untuk membebani si anak, si anak sudah terlalu banyak urusan, dan bla..bla.. yang lainnya..
Tanpa disadari, sikap "tidak tega" yang dimaksud si orang tua, justru menjadi boomerang bagi anaknya. Dan kini, si anak menjadi pergunjingan banyak orang.
Saya jadi ingat tentang kata-kata yang pernah saya baca dari tweet seorang psikolog. Apakah boleh orang tua mengeluh ke anaknya? Beliau menjawab "kenapa tidak?!" Beliau melanjutkan, kurang lebih seperti ini:  Adalah manusiawi ketika seorang mengalami kesulitan, maka ia meminta bantuan. Biasanya meminta bantuan dimulai dari orang terdekatnya atau orang yang paling ia percaya. Maka, sah-sah saja ketika orang tua mengeluh atau curhat sama anaknya. Itu bukan dosa kok buat orang tua. Malah akan mengajarkan pada anak, bahwa orang tuanya juga manusia yang memiliki masalah, yang bisa sakit, bisa luka. Anak yang tidak diajarkan untuk peka terhadap keadaan sekitarnya, akan tumbuh menjadi anak yang egois dan tidak tanggap. Asal, keluhan masih dalam tahap yang wajar.. Karena bila anak terlalu sering melihat orang tuanya menangis, terlalu sering melihat orang tuanya tersakiti, atau terlalu sering mendengar keluhan dari orang tuanya, juga akan mempengaruhi perkembangan psikologisnya. Anak bisa tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri dan pemurung.
Ketika berkali-kali saya mendengar cerita tentang si anak tersebut, saya jadi teringat dengan ibu psikolog cantik di tweeter.. ternyata memang benar yaa.. Tidak ada salahnya lho orang tua curhat ke anak... 
Jadi, ketika pulang kantor, naik bemo, hujan deras, macet dan sampai rumah basah kuyup, masih sah dunk cerita ke anak-anak bagaimana tadi perjalanan pulang kantor??! hihihi... *pembelaan diri*
Saya juga inget almarhum Om saya. Keluarga Om saya terbiasa bangun sebelum shubuh. Keluarga disini maksudnya seluruh anggota keluarga, istri dan anaknya. Jadi kalau saya maen dan menginap di rumah om saya, maka saya akan sudah mendengar kegiatan rumah sudah aktif dan berjalan dimulai pukul 3.30-4.00 pagi. Dimana semua anggota keluarga sudah mulai bangun dan langsung mandi (ini wajib bahkan saya pun akan dipaksa utk mandi jam 3.30 pagi sama om). Selanjutnya sholat, masak, bersih2, siap ke kantor atau sekolah. Alasan Om saya membiasakan anaknya bangun pagi buta karena beliau ingin anak-anaknya tahu kalau rumah bersih dan nasi yang ada di meja makan tidak datang begitu saja. tapi pagi-pagi buta ibu masak, dan beres2 rumah. Maka sejak kecil Om membiasakan anaknya untuk selalu ikut bangun ketika om dan bulik saya bangun. Ikut mandi juga.. air sumur.. Katanya air dingin akan membuat mata jadi melek, dan otot2 aktif bekerja.. artikel ilmiahnya googling aja kali yaa.. kalo saya pernah baca memang mandi air dingin bisa meningkatkan sirkulasi darah dan meningkatkan metabolisme. Setelah bangun dan mandi, si anak mendapat job desc membantu orang tuanya. Bentuk bantuan tentu saja disesuaikan usianya. Jadi kalau dulu masih kecil, sebisa mungkin saya hindari menginap di rumah Om, karena saya males harus bangun pagi buta dan mandi air dingin.. hihi.. bener-bener menyiksa, karena saya tidak terbiasa.. haha.. Kalau sekedar membantu beres2 rumah sih saya tidak pernah keberatan, karena dari SD saya sudah terbiasa membantu ibu beres2. Tapi buat sepupu saya yang sudah terbiasa dari kecil, mandi air dingin pagi buta bukan lagi beban, tapi kegiatan yang menyenangkan.. bahkan dia bisa mandi air dingin pagi buta dengan sambil bersenandung dan menertawakan saya yang masih usep2 mata.. Dan sekarang sepupu saya tumbuh menjadi anak yang peka dengan keadaan orang tuanya. Karena keterbatasan ekonomi orang tuanya, maka ia pun tidak keberatan kuliah sambil kerja. Bahkan ketika om saya meninggal, adik saya pun bisa membantu ibunya, menguatkan ibunya. Si anak tumbuh menjadi anak yang tangguh.
Bagaimana saya mengajarkan Kira-Kara? Yang jelas, belum bisa seperti om saya, yang harus bangun pagi buta dan mengharuskan mandi air-dingin. Saya masih menikmati bangun pagi buta, ambil HP, login theurbanmama, masuk selimut lagi. heuheu.. tapi saya juga tidak ingin anak-anak saya tumbuh menjadi anak egois, yang tidak peka dengan keadaan sekitarnya.. maka, saya masih melanjutkan perjuangan memperbaiki diri dan terus belajar. Memang benar "there is always different story in every parenting style"
Sekian, semoga bisa dijadikan bahan pelajaran buat yang lain.
Mendidik anak itu ternyata ada "sekolah"nya kok... Tergantung seberapa besar kamu mau belajar??!
cheers! :)

Dec 17, 2012

Sekolah menjadi Orang Tua

Banyak dari kita memiliki mimpi yang pasti menjadi orang tua dan harapan tentang anak-anak kita. Sepertinya menjadi orang tua adalah naluriah yang ada di lingkungan dan sosial masyarakat kita. Bahkan ketika dianggap sudah "berumur" namun belum menikah atau memiliki anak pasti akan banyak kalimat tanya yang berputar di telinga. Itulah culture di mana kita tinggal. Mungkin terdengar cukup simple dan biasa. Tapi bagi saya, menjadi orang tua itu pengalaman yang membuat dunia saya "jungkir balik".

Bagi sebagian banyak orang tua, semua proses dari mulai melahirkan, menyusui, mendidik anak, sekolah, dan mendampingi anak-anaknya adalah naluriah. Banyak hal yang dilakukan sesuai adat kebiasan pada umumnya. Banyak keputusan yang diambil dengan pemikiran sederhana, spontan dan naluri orang tua yang kuat.
Tapi bagi saya, tidak demikian. Saya yang tidak pernah percaya diri dalam mengambil keputusan, perlu browsing berpuluh-puluh website hanya demi mendapat ide menghabiskan akhir pekan bersama anak-anak. Saya akan berpikir berhari-hari ketika melihat nafsu makan anak-anak turun. Saya tidak akan bisa tidur bermalam-malam sebelumnya ketika akan melewati proses menyapih. Dan itupun belum tentu keputusan yang saya ambil adalah keputusan yang benar. Saya masih akan menyesal dan berpikir berhari-hari setelahnya bahwa mungkin kemarin saya sebaiknya maen ke tempat "A" agar anak-anak lebih bahagia.

Memang menjadi orang tua itu tidak ada sekolah formalnya. Bahkan ilmu menjadi orang tua tidak ada yang absolute kebenarannya. Semua keputusan yang diambil oleh setiap orang tua, pasti memiliki landasan "demi kebaikan semua buah hatinya". Dan setiap pola asuh akan memiliki cerita dan jalan yang berbeda-beda. Semua bergantung pada kenyamanan hubungan orang tua-anak. Dan semua tidak akan pernah sama, seperti layaknya sifat manusia yang selalu berbeda. Itulah keunikannya.

Namun begitu, menjadi orang tua bukan berarti tidak perlu belajar. Menjadi orang tua bukan berarti bijaksana secara instan. Menjadi orang tua bukan berarti segalanya menjadi benar. Menjadi orang tua bukan berarti selalu menjadi hebat disaat bersamaan. Semua memerlukan proses, pembelajaran, trial and error, dan adaptasi.  Justru menjadi orang tua berarti belajar seumur hidup, karena seiring perkembangan waktu semua tidak akan pernah sama. Anak-anak tumbuh, lingkungan berkembang, teknologi semakin canggih, dan dunia tidak akan pernah berhenti di satu titik. Begitupun pengetahuan tentang menjadi orang tua tidak akan pernah sama dari waktu ke waktu. Anak yang berkembang normal dan bagus, juga akan memiliki perkembangan psikologis. Menghadapi anak yang psikologisnya terus berkembang, orang tua tidak bisa berdiam dengan hanya satu tindakan, atau menyerah kalah dengan tameng jawaban "jaman anak kita beda" atau "anak sekarang lebih pintar dari orang tuanya" atau bahkan sampai terucap "anak yang bandel".
Disaat tercetus di otak jawaban-jawaban itu, mungkin itulah red alert bahwa kita, sebagai orang tua sudah saatnya "up grade" ilmu. Tidak ada alasan yang tidak masuk akal dibalik tingkah "bandel" atau sifat yang "susah" setiap anak-anak.

Dan tulisan inilah yang kelak akan terus saya baca, ketika saya sudah mulai jumawa dengan semua ilmu dari bacaan yang saya peroleh. Ilmu itu belum seberapa. Ilmu dan pengetahuan itu akan terus berkembang. Jumawa dan berpuas diri, berarti saya tidak melangkah maju, tapi hanya berhenti disatu titik. Seperti quote cantik yang pernah saya dengar, "when you think you know everything, you know nothing" (hitam-putih).