Jun 19, 2013

Belajar dan Berpetualang bersama Evamats

Siapa yang belum punya evamats? Hampir semua rumah yang ada anak kecilnya pasti punya matras warna-warni ini sebagai alas mainnya. Tapi ternyata selain sebagai alas main, matras ini punya banyak kegunaan lho.
Saya punya pengalaman menarik bermain bersama evamats ini. Beberapa minggu ini hampir setiap pagi dan sore Surabaya selalu diguyur hujan. Kalau biasanya saya sedikit meluangkan waktu untuk sekedar lari kecil atau berjalan-jalan diluar rumah bersama Kira dan Kara, kegiatan ini makin jarang kami lakukan karena cuaca yang tidak mendukung. Melihat Kira dan Kara hanya berkutat dengan ipad dan galaxy tab, hati saya cemburu. Pengen deh rasanya maen lompat-lompat, lari-lari di luar bersama Kira dan Kara. Hmmm... saya pun sibuk mencari ide (meskipun sebenarnya gak sesibuk yang dibayangkan) hehe.. Melihat tumpukan evamats yang teronggok manis, saya mendadak punya ide. Yuk ah kita lihat apa saja yang bisa kita kerjakan bersama evamats ini:

1. Bermain Puzzle
Evamats yang dilengkapi dengan gambar warna-warni ini, bisa merangsang anak untuk melatih motoriknya dengan bermain puzzle. Awalnya ajarkan saja cara melepas semua pernik-pernik gambar, angka dan huruf-hurufnya. Kalau anak masih frustasi tidak bisa memasangnya kembali, ajarkan pelan-pelan. Awalnya saya tempatkan gambar diatas lubang, Kira dan Kara tinggal menepuk-nepuk hingga gambar masuk ke lubangnya. Makin lama mereka mampu menempatkan gambarnya sesuai bentuk lubangnya. Bermain puzzle juga mengajarkan anak untuk bersabar dan teliti. Kita juga harus ingat kalau mengajarkan sabar pada anak itu juga harus dengan sabar. Kalau anak tantrum karena tidak bisa melakukannya sendiri, tidak perlu galau, sedih atau marah yaa.. :)

2. Bermain Lompat Katak

Permainan ini untuk melatih motorik kasar anak. Saya menempatkan evamats dengan jarak yang bervariasi, kemudian saya ajak anak melompat dari satu evamat ke evamat yang lain. Persis seperti main lompat dari satu batu ke batu tapak yang lain yang biasa ditata di taman.
Hanya saja posisi batu digantikan dengan evamat. Menyenangkan? tentu saja.. anak-anak berlomba-lomba untuk dapat melompat tanpa kakinya jatuh di lantai. Jangan lupa mengatur jarak sesuai jangkauan anak. Perlahan perlebar jaraknya. Lompatnya pun bisa bervariasi, mulai dari melatih melompat dengan 2 kaki bergantian atau melompat dengan dua kaki sekaligus. Untuk anak 3 tahun ke atas bahkan mulai bisa diajarkan melompat dengan 1 kaki.

3. Bermain Lompat ZigZag
Bosan dengan permainan lompat katak yang biasa, bunda bisa merubah aturan permainannya. Atur evamat sedemikian rupa yang memungkinkan anak dapat melompat secara zigzag seperti gambar disamping. Fungsinya? Selain melatih motorik, permainan ini melatih anak untuk berkonsentrasi. Salah melompat, minta dia untuk mengulangi dari awal. Anak harus konsentrasi agar dia bisa cepat finish tanpa harus mengulang lagi.

4. Bermain tebak Warna
Permainan ini juga tidak kalah serunya. Untuk anak yang sedang belajar warna, bisa dijadikan sebagai alat belajar yang menyenangkan. caranya pun bervariasi, intip yuk:
-  Setelah evamat yang berbeda-beda warna diatur sedemikian rupa, bunda dapat berteriak menyebutkan satu warna kemudian minta anak berlari ke warna yang diminta.
- Atur evamat seperti pada permainan lompat katak. Sambil melompat, anak diminta untuk menyebutkan warna evamatnya.
-  Setelah lancar, atur evamats seperti lompat zigzag, kemudian minta anak menyebutkan warna seperti sebelumnya.
Karena Kira dan kara sudah lancar mengenal warna dalam bahasa Indonesia, saya gunakan permainan ini untuk mengenal warna dalam bahasa Inggris. Berkat permainan ini, sekarang Kira dan Kara terbantu mengenal warna dalam bahasa Inggris.

5. Bermain Yoga
Selesai dan capek bermain lompat-lompat dan belajar bersama evamats, sekarang saatnya memanfaatkan evamats sebagai alas untuk yoga. Banyak sekali tutorial yoga for kids yang bisa dilihat di youtube. salah satu favorite kita, bermain yoga bersama jamie dari Yoga Cosmic Kids ini.

Seru bukan. Ternyata kita bisa melakukan banyak hal hanya dari satu jenis barang ini. Yuk bunda, share ide bermain bunda yang lain yuk... biar kita bisa menjadikan waktu bersama anak, bukan hanya seru, tapi juga penuh ilmu :)


Apr 18, 2013

Healthy Fun Adventure

Posting ini sebenarnya dalam rangka campaign the urban mama: Healthy Mama, Modern Kartini
Keren yaaa..
Saya? Tentu saja gak mau ketinggalan. Salah satu kegiatan favorite yang menyehatkan, apalagi kalo bukan hiking. Meskipun sekarang sudah jauh banyak berkurang hiking di tempat-tempat menarik, tapi tidak mengurangi semangat untuk hiking alias jalan-jalan dimana saja kaan..
Bahkan sekarang saya sudah mulai menularkan kegiatan gemar berjalan kaki ini kepada Kira dan Kara. Kita memulainya dengan kegiatan yang paling sederhana. Selalu berangkat dan pulang posyandu dengan berjalan kaki, meskipun berjarak 2 gang dari rumah. Bahkan belanja ke indomaret, kalau pagi hari saya ajak Ki-Ka berjalan kaki. Lumayanlah, PP bisa 1 KM lebih lhooo..
Berikut beberapa foto saya waktu hiking.

Oh iya, kalau hiking, ada 2 logistik yang tidak lupa selalu ada di tas adalah air mineral dan buah. Buah? iya, segerrr... kalau bawa pisang, bisa bikin kenyang pula... Sehat.. Meskipun tidak sedang hiking, buah adalah makanan favorite saya. Minum jus juga jadi kegemaran saya. Eh nular juga lho ke Kira-Kara. Bahkan favorite pisang kita sama, pisang raja.. horeee...

sekian. :D

Mar 15, 2013

Our Chit-Chat (1)

Suatu sore, 2 hari yang lalu ketika bunda pulang dari kantor, Kara dan Kira menyambut di depan pintu. Melihat baju dan celana bunda ada yang basah, Kira dan Kara bereaksi. Ini sedikit obrolan kami:

Kira : Baju bunda basah ya?
Bunda: Iya kak, bunda kehujanan...
Kara: Bunda gak pake jas hujan?
Bunda: enggak, bunda pake payung..
Kara: Harusnya pake jas hujan bunda... (it's true, bunda tidak salah dengar ketika Kara benar-benar bilang "harusnya")
Bunda: Kenapa harus pake jas hujan, dik?
Kara: "biar gak basah bunda... biar gak kena hujan.."
Bunda: "Bunda gak punya jas hujan. Yang punya jas hujan ayah dan om nunny... Bunda punya nya payung.."
Kara: "Nanti kalo adik sudah besar, adik belikan ya bunda.. biar bunda gak kehujanan..."
Kira: "Nanti kakak yang boncengin ya bunda..."
Bunda: "Oh yaaa.. terima kasih ya dik.." lanjut.. "boncengin kemana kak?"
Kira: "boncengin pake motor.. kayak ayah... anterin bunda ke kantor..."
Bunda: *melting*





Mar 14, 2013

Our Newest Fun Adventure

Minggu kemarin saya bersama Kira & Kara naik kereta api pulang ke Surabaya. Perjalanan mudik dengan kereta api bukan hal baru bagi saya dan Kira - Kara.  Sejak tahun kemarin kami rutin mudik naik kereta api. Alasannya sederhana, moda transportasi ini paling nyaman, lebih cepat, dan mudah di dapat tiketnya. Untuk kami yang mudah mabuk perjalanan, naik kereta api amat sangat membantu. Bosan dengan perjalanan, kami bisa berjalan-jalan di lorong kereta.  Jadi apa yang baru kali ini??

Apabila biasanya saya selalu ditemani suami atau mertua, kali ini tidak ada yang bisa menemani. Suami sudah terlanjur handle kerjaan yang tidak bisa ditinggal. Adik-adik saya masih sibuk dengan urusan hajatan di rumah karena memang saya pulang dalam rangka pernikahan adik bungsu saya.  Jadi? Saya nekat naik kereta api hanya bertiga bersama Kira dan Kara.

Reaksi orang sekitar saya? Mostly mereka khawatir. Karena saya membawa 2 anak yang sedang lincah-lincahnya, ceriwis-ceriwisnya dan penuh rasa ingin tahu. Tapi saya tahu, saya yakin, saya bisa.. Setelah mendapat ijin dari suami, maka saya mantap untuk pulang naik kereta api hanya bertiga bersama Kira & Kara. 2 hari sebelum keberangkatan saya sudah bilang sama Kira dan Kara kalo nanti pulang ke Surabaya hanya dengan bunda. Ayah akan naik bis lebih dulu.. dan bla.. bla.. yang lainnya. Tujuannya, saya ingin mempersiapkan mental Kira & Kara agar lebih berhati-hati sepanjang perjalanan nanti. Jujur, saya sendiri sebenarnya juga deg-deg'an dengan reaksi Kira - Kara nanti. Karena biasanya mereka tidak bisa duduk diam di kursinya. Selalu memaksa ayahnya untuk jalan-jalan di lorong kereta. Bukan karena bosen, tapi karena banyak hal baru yang bisa mereka lihat dari pintu Kereta api yang berjendela lebih lebar. Dan mungkin mereka juga menikmati jalan-jalan dengan sensasi goncangan kereta. hehe...  Surpraise-nya, sepanjang perjalanan saya mendapati Kira & Kara bertingkah sangaaatt manis dan kooperatif. Mereka masih ingin tahu tentang semua yang mereka lihat. Seperti ketika mereka ingin lihat rel kereta,  saya bilang, "hati-hati, mundur.. jangan terlalu dekat rel.." Mereka dengan sangat patuh melihat rel kereta dari jarak yang aman.. tentunya masih dengan buntut2 pertanyaan "kenapa bunda?", "Kereta punya roda ya bunda?" dan banyak lagi..


Bahkan di dalam kereta yang biasanya mereka tidak sabar duduk dikursinya, kali ini mereka hampir tidak meminta untuk jalan-jalan di gerbong, kalau saya tidak menawarinya. Bahkan ketika saya tawari pun, mereka menjawab "enggak bunda.. nanti gak ada yang jagain tasnya..." Reaksi saya? Terkejut, surpraise, dan ternganga... Never crossed in my mind!
Kompensasinya, saya bercerita tentang banyak hal.. tentang hutan, apa manfaat hutan,  tentang sawah, tentang bagaimana Pak Tani bekerja. Mereka menyambung dengan cerita imaginasi mereka tentang hutan dan tebing dan awan yang berarak-arak... Sungguh, saya tidak pernah menyangka, Kara mampu membuat cerita imaginasinya tentang hewan yang ada di hutan. Kara bercerita, Kira menimpali, menyambung, hingga menjadi 1 buah cerita tentang seekor anak panda yang melihat awan yang sedang berarak-arak dan bulan dari atas tebing di sebuah hutan. Sebenarnya ada percakapan si anak panda dengan awan dan bulan.. tapi karena lupa seperti apa, jadi saya tidak bisa bercerita ulang deh.. Yang jelas saya tersenyum-senyum sendiri mendengar mereka bercerita dan takjub sepanjang perjalanan itu... Hingga saya lupa mengabadikan cerita itu dalam sebuah dokumentasi.. Yang saya ingat hanya "betapa Tuhan maha Pemurah dan tidak ada lagi alasan bagi saya untuk tidak bersyukur.."



Untuk membuat perjalanan lebih nyaman, ada beberapa hal yang saya persiapkan. Tidak banyak memang, tapi sangat berguna. Antara lain:

1. Menyiapkan mental Kira & Kara dengan memberitahukannya sebelum perjalanan. Paling tidak, mereka berhak tahu apa yang akan dihadapi nanti dan apa yang harus mereka lakukan untuk kenyamanan dan keselamatan bersama.

2. Mempersiapkan bawaan. Pastikan barang bawaan tidak terlalu banyak, karena konsentrasi utama pada anak-anak. Saya hanya membawa 1 koper dan 1 sling bag. Koper berisi baju-baju dan sling bag berisi 1 baju ganti, snack buat Ki-Ka, dompet, HP, tiket, dan perlengkapan domestik pendukung seperti tissue basah, minyak telon, tissue kering, dan lainnya.  Sebenarnya akan lebih mudah bagi saya seandainya ada ransel besar. Tapi karena tidak ada, koper pun jadi. Dengan pertimbangan, apabila memang ribet maka saya bisa menyewa porter yang sekarang mudah dijumpai di stasiun. Apalagi porter sekarang lebih tertib dan aman karena terdaftar dan terlisensi oleh PT. KAI. Beberapa ribu untuk porter tidak masalah asal keselamatan dan kenyamanan 2 bocah saya tetap terpantau.

3.  Tidak lupa membawa bekal untuk si bocah seperti: snack, susu, minuman, makanan atau bahkan mainan agar 2 bocah tidak bosan. Apabila bosan, anak akan rewel. Dan rewel akan membuat mood bunda jadi terganggu, dan perjalanan tidak lagi nyaman deh.. Jadi jaga mood anak dan ibu itu penting!

4. Jangan terlalu ribet dengan barang. Siapkan tiket dan HP di tempat yang mudah dijangkau.  Uang di tempat yang Aman. Ribet mencari 1 barang saja, akan menganggu kenyamanan. Jadi tas teroganisir itu gak kalah penting buat saya.

5.  Oh iya, memastikan si bocah dalam kondisi prima. Sehat, kenyang, tidak terlalu lelah/mengantuk. Karena namanya bocah, kalo gak fit atau terlalu capek pastilah rewel.

6. Tentunya memastikan moda transportasi dan keadaan stasiun aman dan tidak crowded. Kereta api dan stasiun sejauh ini transportasi paling aman dan nyaman untuk perjalanan bersama anak.

Buat saya, perjalanan tersebut benar-benar petualangan yang luar biasa bersama Kira dan Kara... Jadi, gak takut lagi dunk jalan-jalan hanya bersama anak-anak sajaa?! :D

Jan 26, 2013

[Pepatah Jawa] "Abot Entheng Tak Sanggane"

Pernah mendengar tentang pepatah Jawa, ibarat kata "Abot Entheng tak sanggane"? Kurang lebih dalam bahasa Indonesia "berat-ringan biar kupikul sendiri".
Katanya ibu-bapak dulu, sebagai orang tua harus siap dengan segala resikonya. abot-entheng, berat-ringan, harus siap memikulnya. Memang setiap keputusan, setiap tindakan, setiap langkah kita pasti mengandung resiko. Dan memang apapun resikonya kita musti siap mempertanggung jawabkannya. Namun banyak yang masih memiliki persepsi berbeda.. Ada pula yang memiliki persepsi bahwa, berat-ringan tugas sebagai orang tua, resiko sebagai orang tua, sebaiknya anak jangan sampai tahu. Apa anda satu diantara yang memiliki pendapat serupa?
Karena hari ini saya benar-benar mendapat pelajaran berharga dari filosofi tersebut. Alkisah ada orang tua yang memiliki filosofi, apapun beban orang tua, apapun yang dialami orang tua, sebaiknya anaknya jangan sampai tahu. Karena memang itu sudah menjadi resikonya, sudah menjadi tugasnya. "abot entheng tak sanggane, mbak..." begitu konon katanya.. Waktu demi waktu berlalu.. si anak tumbuh dewasa dan sudah menikah serta memiliki anak. Hingga suatu saat, si orang tua mengalami kesusahan yang tidak bisa ditanggungnya sendiri. Bagaimana reaksi si anak? Adem ayem.. Karena ia tidak diajarkan untuk peka terhadap kesulitan orang tuanya. Bagaimana orang tua melihat anaknya yang tetep adem ayem saja? Nelangsa, tapi tidak lagi mampu berbuat apa-apa.. banyak alasan.. tidak tega untuk membebani si anak, si anak sudah terlalu banyak urusan, dan bla..bla.. yang lainnya..
Tanpa disadari, sikap "tidak tega" yang dimaksud si orang tua, justru menjadi boomerang bagi anaknya. Dan kini, si anak menjadi pergunjingan banyak orang.
Saya jadi ingat tentang kata-kata yang pernah saya baca dari tweet seorang psikolog. Apakah boleh orang tua mengeluh ke anaknya? Beliau menjawab "kenapa tidak?!" Beliau melanjutkan, kurang lebih seperti ini:  Adalah manusiawi ketika seorang mengalami kesulitan, maka ia meminta bantuan. Biasanya meminta bantuan dimulai dari orang terdekatnya atau orang yang paling ia percaya. Maka, sah-sah saja ketika orang tua mengeluh atau curhat sama anaknya. Itu bukan dosa kok buat orang tua. Malah akan mengajarkan pada anak, bahwa orang tuanya juga manusia yang memiliki masalah, yang bisa sakit, bisa luka. Anak yang tidak diajarkan untuk peka terhadap keadaan sekitarnya, akan tumbuh menjadi anak yang egois dan tidak tanggap. Asal, keluhan masih dalam tahap yang wajar.. Karena bila anak terlalu sering melihat orang tuanya menangis, terlalu sering melihat orang tuanya tersakiti, atau terlalu sering mendengar keluhan dari orang tuanya, juga akan mempengaruhi perkembangan psikologisnya. Anak bisa tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri dan pemurung.
Ketika berkali-kali saya mendengar cerita tentang si anak tersebut, saya jadi teringat dengan ibu psikolog cantik di tweeter.. ternyata memang benar yaa.. Tidak ada salahnya lho orang tua curhat ke anak... 
Jadi, ketika pulang kantor, naik bemo, hujan deras, macet dan sampai rumah basah kuyup, masih sah dunk cerita ke anak-anak bagaimana tadi perjalanan pulang kantor??! hihihi... *pembelaan diri*
Saya juga inget almarhum Om saya. Keluarga Om saya terbiasa bangun sebelum shubuh. Keluarga disini maksudnya seluruh anggota keluarga, istri dan anaknya. Jadi kalau saya maen dan menginap di rumah om saya, maka saya akan sudah mendengar kegiatan rumah sudah aktif dan berjalan dimulai pukul 3.30-4.00 pagi. Dimana semua anggota keluarga sudah mulai bangun dan langsung mandi (ini wajib bahkan saya pun akan dipaksa utk mandi jam 3.30 pagi sama om). Selanjutnya sholat, masak, bersih2, siap ke kantor atau sekolah. Alasan Om saya membiasakan anaknya bangun pagi buta karena beliau ingin anak-anaknya tahu kalau rumah bersih dan nasi yang ada di meja makan tidak datang begitu saja. tapi pagi-pagi buta ibu masak, dan beres2 rumah. Maka sejak kecil Om membiasakan anaknya untuk selalu ikut bangun ketika om dan bulik saya bangun. Ikut mandi juga.. air sumur.. Katanya air dingin akan membuat mata jadi melek, dan otot2 aktif bekerja.. artikel ilmiahnya googling aja kali yaa.. kalo saya pernah baca memang mandi air dingin bisa meningkatkan sirkulasi darah dan meningkatkan metabolisme. Setelah bangun dan mandi, si anak mendapat job desc membantu orang tuanya. Bentuk bantuan tentu saja disesuaikan usianya. Jadi kalau dulu masih kecil, sebisa mungkin saya hindari menginap di rumah Om, karena saya males harus bangun pagi buta dan mandi air dingin.. hihi.. bener-bener menyiksa, karena saya tidak terbiasa.. haha.. Kalau sekedar membantu beres2 rumah sih saya tidak pernah keberatan, karena dari SD saya sudah terbiasa membantu ibu beres2. Tapi buat sepupu saya yang sudah terbiasa dari kecil, mandi air dingin pagi buta bukan lagi beban, tapi kegiatan yang menyenangkan.. bahkan dia bisa mandi air dingin pagi buta dengan sambil bersenandung dan menertawakan saya yang masih usep2 mata.. Dan sekarang sepupu saya tumbuh menjadi anak yang peka dengan keadaan orang tuanya. Karena keterbatasan ekonomi orang tuanya, maka ia pun tidak keberatan kuliah sambil kerja. Bahkan ketika om saya meninggal, adik saya pun bisa membantu ibunya, menguatkan ibunya. Si anak tumbuh menjadi anak yang tangguh.
Bagaimana saya mengajarkan Kira-Kara? Yang jelas, belum bisa seperti om saya, yang harus bangun pagi buta dan mengharuskan mandi air-dingin. Saya masih menikmati bangun pagi buta, ambil HP, login theurbanmama, masuk selimut lagi. heuheu.. tapi saya juga tidak ingin anak-anak saya tumbuh menjadi anak egois, yang tidak peka dengan keadaan sekitarnya.. maka, saya masih melanjutkan perjuangan memperbaiki diri dan terus belajar. Memang benar "there is always different story in every parenting style"
Sekian, semoga bisa dijadikan bahan pelajaran buat yang lain.
Mendidik anak itu ternyata ada "sekolah"nya kok... Tergantung seberapa besar kamu mau belajar??!
cheers! :)