May 28, 2017

Sepotong Kenangan Bersama Bapak

Hari ini adalah salah satu hari jungkir balik merawat dua blog di tengah deadline berjejer yang seharusnya saya kerjakan. Laporan keuangan bulanan untuk 2 perusahaan belum selesai saya kerjakan, hutang tulisan masih rapi manis belum tersentuh. Entah mengapa hati saya sedang campur aduk. Iseng saya susuri jajaran draft tulisan dalam folder blog. Hingga mata saya terpaku pada tulisan ini. Saya tahu, kembali membuka tulisan ini berarti kembali air mata saya akan meleleh. Namun ternyata jari saya tak mampu bertahan untuk tidak bergerak. Cursor pun mengarah ke file berjudul "Sepotong Kenangan Bersama Bapak" dan terbukalah kenangan masa lalu.


Kini saatnya dunia turut membaca. Melepaskan tulisan ini menjadi milik semua. Ini sepotong kenangan bersama Bapak. Tak banyak, namun sangat berharga. Kelak, biarkan Kira dan Kara juga turut membacanya. Biarkan mereka tahu dari mana terbentuk sosok ibunya seperti sekarang ini.

SEPOTONG KENANGAN BERSAMA BAPAK

Berbicara tentang sosok seorang ayah, tak banyak yang bisa saya ceritakan, namun sekaligus banyak yang saya rasakan.  Pernah mendengar cerita tentang seorang anak yang meronta karena ingin tinggal bersama ibunya yang pecandu narkoba. Meskipun ibunya sering memukulnya, namun yang ia ingat adalah rasa kasih sayang ibunya sebelum menjadi seorang pecandu narkoba. Ingatan seorang anak adalah kenangan manis yang tertinggal tentang orang tuanya.

Mungkin apa yang saya alami tidak seekstrem itu. Namun di lain sisi, saya juga tidak bisa bercerita banyak tentang kenangan bersama Bapak. Masa kecil saya penuh warna. Dimana keluarga saya pada saat itu sedang mengalami banyak masalah.  Saya memang tidak langsung menyaksikan kedua orang tua saya bertengkar, namun saya tahu ada yang berbeda dengan hubungan ibu dan bapak saya. Pernah tengah malam saya terbangun dan mendengar ibu saya menangis.  Saya tidak berani keluar kamar, namun saya tahu, kedua orang tua saya sedang bersitegang. Hari-hari selanjutnya, mungkin seperti dalam film, saya tak lagi menyaksikan kedua tangan orang tua saya saling bergandengan dan berpelukan.

Belum lagi bisik-bisik tetangga dan keluarga yang membuat hati anak berumur 9 tahun saat itu seperti ditusuk dan diiris.  Saya tahu seperti apa rasanya dibicarakan dibelakang, dicibir, dan dicemooh di usia itu karena apa yang terjadi di keluarga saya.  Saya tahu seperti apa rasanya melihat ibu saya berusaha menahan tangis, sementara di sisi lain, Bapak saya ingin bercerita sesuatu kepada saya tetapi tak mampu.  Saya harus mampu memahami tanpa harus bertanya.  Saya harus mampu mengerti tanpa banyak kata. Maka saya, gadis 9 tahun, tumbuh menjadi anak yang pendiam dan keras kepala.

Saya memahami Bapak sebagai seorang laki-laki yang penuh tanggung jawab dan berwibawa. Pantang bagi bapak membiarkan anak-anaknya di caci karena kebodohannya. Pernah suatu hari ketika Bapak sedang mengajarkan menulis halus pada saya, Beliau berujar, kamu boleh tidak berharta banyak, tapi kamu tidak boleh berkekurangan bacaan. Saya ingat ketika saya pulang menenteng majalah bobo hasil dari uang saku saya, ibu saya akan berkeluh kesah uang saku kok dibelikan kertas, maka bapak akan membela saya dengan menyuruh saya masuk kamar.  Bapak yang mengajarkan saya menulis. Bapak yang mengajarkan saya untuk jangan bosan membaca.  Jika ada rejeki lebih, bapak akan mengajak saya membeli nasi pecel kesukaan saya di warung sebarang jalan. Dengan menggandeng tangan saya, bapak akan bersenandung tembang yang sama “tak lelo lelo ledung..”. Tembang tentang seorang bapak untuk anak perempuannya yang menangis.

Sebatas itulah kenangan saya bersama Bapak. Hari-hari saya tumbuh menjadi remaja, Bapak sudah tak lagi mampu menjangkaunya. Langkah saya terlalu lebar untuk Bapak. Kepakan sayap saya terlalu tinggi untuk Bapak. Saya tumbuh menjadi seorang gadis melebihi impiannya. Saya yang membuka jalan buat Bapak menyelesaikan beberapa masalah masa lalunya. Tak heran, setiap kali saya pulang ke rumah, Bapak selalu menyempatkan duduk di sisi saya, mendengarkan saya bercerita tanpa banyak tanya. Atau sebaliknya, saya mendengar bapak bercerita tanpa banyak berkata. Kita tidak pernah saling memandang, atau saling berpelukan, karena kemesraan kami adalah 2 hati yang saling memahami tanpa kata. Kami hanya saling duduk bersisian dan salah satu diantara kami bercerita, dan yang lain menimpali dengan gumaman dan senyuman. Sebatas itulah kenangan saya bersama Bapak.

Hingga suatu hari, ketika saya memutuskan untuk menerima pinangan seorang lelaki pun, Bapak juga tak banyak bertanya. Berawal ketika saya meminta ijin untuk membeli rumah di Sidoarjo, Bapak hanya berkata, “Jika kamu sudah mantap dan kamu merasa mampu, Bapak hanya bisa berdo’a buat kamu..” Itu saja. Lalu telp ditutup.  Saya tahu Bapak dan Ibu sangat berharap banyak saya lah yang menjadi penerus usahanya, saya lah yang akan mendampingi beliau. Namun sepertinya jalan takdir membawa cerita berbeda. Anak gadisnya terlalu keras kepala untuk mau kembali pulang ke rumah. Sayap gadisnya sudah terbang diluar jangkauannya. Bapak selalu membela saya dengan berkata, masih bersyukur dia selalu ingat untuk pulang. Iya, selalu ingat untuk pulang, saya ingat jalan untuk pulang.

Pun ketika saya memutuskan untuk menikah, Bapak tidak banyak bertanya siapa lelaki pilihan saya, apa pekerjaannya, seperti apa orangnya, dan bla..bla.. lainnya. Meskipun bapak tahu ternyata saya pulang membawa lelaki berambut gondrong, bercelana sobek-sobek, berpenampilan semaunya dan tidak bisa berbahasa jawa, Bapak masih tidak banyak bertanya.  Seolah Bapak tahu, apapun yang akan beliau katakan, tidak akan berpengaruh banyak pada pilihan saya. Berbeda jika adik-adiknya atau keponakan-keponakannya yang meminta ijin menikah, Bapak akan menginterogasinya hingga keujung-ujung kukunya. Ya, Bapak adalah seorang kakak dan pakdhe yang sangat perhatian dan penuh tanggung jawab.

Melalui Ibuk, Bapak menitipkan rangkaian prosesi adat yang ia inginkan. Beruntung juga saat itu saya dan calon suami tak banyak menuntut. Sehingga Bapak dengan leluasa mengatur acara pernikahan kami sesuai mimpi beliau. Satu hal yang sangat saya syukuri sebelum beliau tiada, adalah mampu mewujudkan mimpi-mimpi beliau. Dan sebatas itulah kenangan saya bersama Bapak.

Pun ketika setelah saya punya anak kembar, saya tahu Bapak adalah salah satu orang yang sangat gembira dan antusias menanti cucu-cucunya.  Meskipun saya tak banyak memberikan Bapak sesuatu, saya tahu Bapak sangat bangga dan bahagia. Meskipun jalan nasib dan takdir yang ada pada diri saya terlalu jauh di luar jangkauan Bapak, dan tidak banyak yang kami lakukan berdua, namun kami yakin, kami mampu saling memahami tanpa banyak kata.

Bapak, tak banyak kenangan kami miliki. Namun banyak hal yang mampu beliau ajarkan tanpa banyak kata. Mungkin seharusnya kami bisa lebih hangat lagi, mungkin seharusnya kami bisa lebih banyak bercakap-cakap lagi, mungkin seharusnya banyak hal yang mampu saya lakukan untuk Bapak sebelum beliau meninggal. Namun jalan yang sudah kami tuliskan menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk bekal saya menapaki hari-hari bersama anak-anak.  Saya memiliki figur kenangan manis tentang seorang laki-laki yang hangat dalam diamnya.

Bapak, lantunan do’a tak akan pernah terputus untukmu.  Dalam diamku, selalu ada sosok dirimu membekas di lantunan bait do’aku.
Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran

No comments:

Post a Comment