Aug 25, 2015

Tinggal Kelas?

Masih banyak orang yang memberikan stigma negatif ketika mendengar istilah tinggal kelas. Bayangan akan anak yang kurang cerdas, malas, ataupun stempel lain yang akan melekat, seolah menjadi momok tersendiri.  Bahkan tidak sedikit orang tua yang memilih anaknya pindah sekolah asalkan bisa naik kelas, daripada harus bersekolah di tempat yang sama tetapi tinggal kelas.

Kekhawatiran yang sama sempat menghantui sebelum saya memutuskan bahwa tahun ini Kira dan Kara akan tinggal kelas di TK A. Saya khawatir Kira dan Kara akan mengalami bullying, diolok-olok atau ditertawakan teman-temannya.  Karena ketika bertemu dengan beberapa orang tua murid yang tahu bahwa Kira dan Kara masih tetap di TK A, masih ada yang mengernyitkan dahi.  Mereka menatap saya penuh rasa heran meskipun mereka tidak mengungkapkan secara langsung, tetapi keputusan saya seperti terdengar aneh dan tidak wajar.

Lantas kenapa saya memilih memutuskan Kira dan Kara tahun ini tinggal kelas di TK A?  Sebelum liburan akhir tahun ajaran, saya menyempatkan diri bertemu kepala sekolah Kira dan Kara, yang sekaligus psikolog di sekolah.  Saya mengungkapkan beberapa perkembangan Kira dan Kara di rumah juga tentang beberapa hal yang menurut saya masih belum berkembang sempurna.  Ternyata apa yang saya ungkapkan tidak bertepuk sebelah tangan, dan hal yang sama juga menjadi concern ibu kepala sekolah.

Berikut beberapa hal yang menjadi pertimbangan kami untuk memutuskan Kira dan Kara tinggal kelas:
  • Kira dan Kara masih sering menangis ketika menemui masalah yang belum bisa diselesaikan. Kira dan Kara yang terlahir kembar, terbiasa berbagi dan bekerjsama berdua. Ketika di sekolah, terkadang mereka masih harus berhadapan dengan temannya yang merebut mainan, atau mengambil mainan di tangan Kira dan Kara tanpa ijin. Hal yang dia jumpai di sekolah tidak sama dengan yang ada di rumah sering membuatnya frustasi, lalu marah dan menangis. Bahkan tak jarang berteriak.  Faktor kematangan emosi inilah yang membuat dia susah berteman dan makin tergantung dengan saudara kembarnya jika di sekolah.  Padahal kematang emosi sangat dibutuhkan untuk melanjutkan ke tahapan lebih tinggi dalam kompetisi dan sosialisasi.
  • Rentang daya konsentrasi Kara  masih terbilang pendek. Karena Kara adalah anak yang memiliki kemampuan verbal dan imaginasi tinggi, maka lebih mudah baginya melakukan kegiatan sambil bercerita. Jika dibandingkan harus duduk manis menulis, menggunting atau mencocok. Itu  akan menjadi hal yang terkadang lebih cepat membosankan buat dia.  Mewarnai menjadi hal yang membutuhkan perjuangan ekstra buat dia untuk berkonsentrasi.  Hasilnya, sangat jarang Kara sukses mewarnai satu gambar hingga tuntas. 
  • Kira dan Kara yang terbiasa bekerja sama berdua, membawa “efek samping” di tingkat kemandirian mereka.  Kira dan Kara saling bergantung satu dengan yang lain.  Karena berada di kelas yang sama, maka jika di dalam kelas, kerja sama itu berlanjut. Seperti, selesai melakukan kegiatan belajar di kelas, yang akan membereskan alat tulis milik Kira, adalah Kara. Jika ada pekerjaan mewarnai yang belum tuntas milik Kara, Kira datang membantu menuntaskannya.  Meskipun kerja sama ini mutualisme, tetap bisa membuat tahap kemandirian mereka terhambat.
Itu sedikit faktor yang menjadi pertimbangan hingga akhirnya kami memilih memutuskan Kira dan Kara tinggal kelas tahun ini.  Selain itu, masih banyak faktor-faktor lain yang menyertai.  Akhirnya tahun ini Kira dan Kara tetap berada di TK A. Namun karena sudah lebih terbiasa dengan lingkungan sekolah, maka tahun ini mereka tidak keberatan untuk berada di kelas yang berbeda.  Kira di kelas TK A1, dan Kara di kelas TK A2.  Ini kami lakukan bertahap karena kami ingin mereka berlatih lebih mandiri tanpa merusak kerja sama yang sudah terpupuk dengan baik.  Dengan ada di kelas yang berbeda kami berharap mereka bisa lebih cerdas bersosialisasi dengan teman sebayanya.

Tentu saja keputusan ini tidak kami ambil sendiri.  Kami tetap meminta pertimbangan Kira dan Kara.  Kami tidak mungkin mengabaikan pendapat mereka, karena mereka yang menjalani.  Kami ingin mereka juga belajar mengambil keputusan untuk diri mereka sendiri.  Selain itu, jika memang ada teman yang mengolok, kami ingin Kira dan Kara lebih siap menghadapi.  Karena ini bukan hanya keputusan kami, tapi juga kemauan mereka sendiri.  Dan ternyata mereka pun juga memilih untuk tetap berada di kelas TK A, meskipun akan berada di kelas yang berbeda.  Tentu saja alasannya lebih lucu dan menggemaskan khas anak-anak.  Dan Alhamdulillah, setelah 1 bulan berjalan di kelas TK A, ternyata perkembangan mereka jauh lebih menggembirakan dari tahun kemarin.  Dan teman-temannya di TK A dulu, yang sekarang naik ke TK B, tetap berteman dengan wajar, tidak seperti yang saya khawatirkan.  Ternyata keputusan sulit jika diambil bersama-sama dan melibatkan anak akan berbuah manis. 

4 comments:

  1. Wiwit kereennn, salut deh, karena elo nggak kemakan stigma dan lebih memilih melakukan hal yg elo anggap benar dan terbaik buat si cantik Kira Kara, insha Allah hasilnya akan luar biasa...

    Salam manis n titip cium buat Ki Ka yaaaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Zataaaa... Amin! terima kasih supportnya. Ini galaunya berminggu-minggu ta... haha.. Emak-emak banget deh! Ternyata stlh dijalani tidak seberat yang dipikirkan. Bocahnya santai-santai saja. xixi.

      Delete
  2. wah sebuah keputusan yang berat dan anti main stream.. semoga keputusan yang diambil besar manfaatnya dimasa depan kara dan Kira :)

    ReplyDelete